Kementerian Perindustrian terus berupaya menjaga ketersediaan bahan baku bagi sektor industri di dalam negeri, terutama di tengah menghadapi dampak pandemi Covid-19. Oleh karena itu, diperlukan proses distribusi yang baik untuk material, sehingga aktivitas manufaktur dapat berjalan guna memenuhi pasokan bagi pasar domestik hingga ekspor.
“Saat ini, kami sedang melakukan uji coba aplikasi yang nantinya digunakan untuk mendata dan memvalidasi perusahaan-perusahaan bahan baku industri, khususnya di daerah-daerah yang sedang menerapkan karantina wilayah,” kata Direktur Industri Kimia Hulu Kemenperin Fridy Juwono di Jakarta.
Fridy
menjelaskan, hasil dari aplikasi tersebut, yakni berupa stiker yang
akan dipasangkan di kendaraan logistik masing-masing perusahaan.
“Petugas di lapangan hanya perlu memindai stiker itu, dan nanti bisa
terlihat jenis barang, rute distribusi, dan juga informasi lainnya.
Seluruh data terekam semua di sistem melalui SIINas (Sistem Informasi
Industri Nasional),” ungkapnya.
Saat
ini, aplikasi tersebut sedang melalui tahap uji coba di Pusat Data dan
Informasi (Pusdatin) Kemenperin. Fridy berharap, dalam waktu dekat,
aplikasi ini dapat segera diimplementasikan sehingga dapat memudahkan
industri bahan baku untuk melakukan distribusi ke wilayah-wilayah yang
sedang dikarantina.
Lebih
lanjut, aplikasi ini akan terlebih dulu menyasar sektor-sektor yang
dipacu produktivitasnya dalam menghadapi pandemi Covid-19 di tanah air.
Misalnya, industri makanan dan minuman, industri farmasi, serta industri
penghasil alat pelindung diri (APD).
“Ini
sesuai dengan kebutuhan industri bahan baku, karena mereka sudah
meminta adanya dispensasi untuk distribusi ke wilayah-wilayah yang
dikarantina. Sehingga industri kita tetap bisa beroperasi dan tidak ada
hambatan distribusi produk jadi dan bahan baku yang dibutuhkan,” tambah
Fridy.
Fridy
mengemukakan, salah satu sektor pemasok bahan baku adalah industri
garam. Sektor ini cukup terkena dampak dari wabah virus korona di dalam
negeri, dengan terjadinya penurunan produksi. Namun demikian, agar
pasokanbisa terpenuhi, Kemenperin sudah mengeluarkan rekomendasi impor untuk hampir seluruh industri pengolahan.
“Sesuai
dengan rapat di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian,
Kementerian Perdagangan akan mengeluarkan persetujuan impor garam untuk
industri pengolahan sehingga kebutuhan garam dalam negeri dapat
tercukupi hingga akhir tahun,” imbuhnya.
Selain
itu, walaupun sedikit terhambat oleh wabah Covid-19, penyerapan garam
lokal oleh industri dalam negeri tetap berjalan sesuai rencana. Fridy
mengungkapkan, menjelang masa panen di bulan Juli nanti, industri
pengolahan makanan dalam negeri sudah menyerap sekitar 700 ribu ton
garam lokal dari target 1,1 juta ton. “Kami harapkan sebelum bulan Juni
target penyerapan garam lokal oleh industri dalam negeri sebesar 1,1
juta ton dapat tercapai,” pungkasnya.
Kementerian
Perindustrian terus berupaya mendampingi dan mendukung keberlangsungan
industri kecil dan menengah (IKM) dalam menghadapi dampak dari pandemi
Covid-19 di Indonesia. Untuk itu, Kemenperin mengidentifikasi segala
tantangan yang dihadapi IKM di segala sektor, salah satunya yakni IKM
otomotif yang kontribusinya cukup besar bagi pertumbuhan manufaktur dan
ekonomi nasional.
“Kami sudah membuat matriksnya, apa saja yang dibutuhkan oleh setiap pelaku IKM di Indonesia,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta.
Dari
data yang dihimpun Kemenperin, IKM komponen dan suku cadang otomotif
pendukung masih tetap berproduksi, meskipun sebagian besar mengalami
penurunan permintaan dari vendor, Agen Pemegang Merek (APM), hingga
pelanggan, di mana tingkat ketergantungannya sangat tinggi.
“Sebagai
contoh, apabila Honda dan Yamaha berhenti produksi, potensi kerugian
sekitar Rp2 miliar untuk IKM anggota Asosiasi Pengusaha Engineering
Karawang (APEK),” papar Dirjen IKMA.
Salah
satu IKM yang bersiap mengantisipasi dampak dari penyebaran Covid-19,
yakni PT Gading Toolsindo. Mereka memprediksi jika terjadi lockdown selama dua minggu, usahanya akan mengalami kerugian sekitar Rp570 juta. Sedangkan, jika lockdown terjadi selama satu bulan, kerugian yang dialami bisa mencapai Rp1,3 miliar dengan beban bunga kredit Rp480 juta.
Sementara
itu, data juga menunjukkan bahwa untuk akses distribusi dan pengiriman
masih bisa berjalan sepanjang jalur tol nasional (Jakarta-Cikampek dan
Pantura) masih tetap dapat dilalui. Adapun beberapa kendala yang
dihadapi IKM komponen dan suku cadang, di antaranya adalah harga bahan
baku yang lebih mahal, karena pengaruh kurs dolar.
Kemudian,
langkanya ketersediaan masker dan penyanitasi tangan, serta mahalnya
termometer infra merah dan peralatan semprot disinfektan, mengingat
peralatan tersebut dibutuhkan untuk menjalankan protokol kesehatan saat
melakukan kegiatan produksi untuk mencegah penyebaran COVID-19.
Terkait
imbauan pemerintah tentang bekerja dari rumah atau work form home
(WFH), pada karyawan nonproduksi sebagian belum dapat melaksanakannya,
karena keterbatasan fasilitas seperti tidak tersedianya komputer jinjing
atau laptop di rumah. “Namun, telah dilakukan beberapa upaya dalam
rangka mendukung Physical Distancing. Kemudian, untuk penundaan pembayaran kredit/pinjaman dan subsidi gaji karyawan akan kami usulkan,” tukas Gati.
Gati
menambahkan, beberapa IKM Komponen otomotif yang tergabung dalam
Perkumpulan Industri Kecil-Menengah Komponen Otomotif (PIKKO) Indonesia
telah memiliki jaringan pemasok dari luar negeri, seperti PT Eran
Tekniktama yang memiliki jaringan pemasok mesin pembuat masker dari
China. IKM tersebut berharap dapat mengantongi izin impor mesin dari
China untuk proses produksi membuat masker, untuk kemudian hasilnya
didonasikan untuk masyarakat.
Kebijakan
untuk meminimalkan dampak COVID-19 kepada sektor Industri Kecil
Menengah dan Aneka (IKMA) merupakan hal yang penting untuk dilakukan,
mengingat jumlah pelaku IKM yang besar. Hal ini dapat dilihat dari
jumlah unit usaha yang tumbuh dari 3,6 juta unit di tahun 2015 hingga
4,6 juta unit di tahun 2019. IKMA juga merupakan industri yang cukup
banyak menyerap tenaga kerja. Total tenaga kerja IKMA di tahun 2019
berada pada angka 10,8 juta orang dengan nilai produksi lebih dari Rp 1
triliun di tahun 2019.
“Kemenperin
mengusulkan adanya pemberian pinjaman lunak kepada pelaku IKMA sehingga
mereka mampu membayar gaji pekerja yang dirumahkan akibat wabah
COVID-19. Bunga yang ada di pinjaman lunak ini akan lebih rendah dari
bunga KUR,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka
(IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta, Sabtu (4/4).
Sejak
wabah COVID-19 terjadi pada awal Maret 2020, rata-rata penjualan IKMA
mengalami penurunan antara 50-70 persen. Oleh karena itu Kemenperin juga
mengambil langkah lainnya yang untuk meminimalisasi dampak terhadap
IKMA yaitu bekerjasama dengan startup untuk membantu memasarkan produk-produk IKMA. Beberapa startup tersebut antara lain: Tokopedia, Shopee, Blibli, dan Buka Lapak.
Gati
menjelaskan bahwa saat ini kendala lainnya yang sedang dihadapi oleh
pelaku IKMA adalah sulitnya memperoleh bahan baku khususnya yang
diimpor. “Terkait dengan hal ini, Kemenperin akan bekerjasama dengan
industri bahan baku dalam negeri supaya mereka memproduksi dan
menyalurkan ke IKM,” ungkapnya.
Selain
itu, untuk mengurangi beban yang ditanggung pelaku IKMA akibat
COVID-19, Pemerintah juga memberikan kebijakan berupa penundaan
pembayaran kredit. Dengan demikian, pelaku IKM tidak perlu khawatir
terhadap pembayaran kredit.
Gati
mengungkapkan, Kemenperin selalu berkoordinasi dengan Kepala Dinas
Perindustrian yang ada di 34 Provinsi di Indonesia. “Koordinasi yang
kami lakukan ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak COVID-19
terhadap IKM di setiap provinsi dan juga memetakan dampak yang
ditimbulkan terhadap tenaga kerja,” jelasnya.
Berdasarkan
hasil koordinasi yang sudah dilakukan hingga saat ini, terdapat 43.016
IKMA yang terdampak COVID-19. IKMA tersebut tersebar di berbagai
provinsi di Indonesia antara lain Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan,
Sulawesi Tengah, Maluku, Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, dan Banten.
Terdapat 149.858 pekerja bernaung di sejumlah IKM tersebut yang saat ini
produksinya terdampak COVID-19.
Kemenperin
juga melakukan langkah-langkah koordinasi dengan kementerian terkait
lainnya untuk meminimalkan dampak wabah COVID-19 terhadap ekspor
produk-produk IKM yang didominasi oleh hasil kerajinan.
“Dampak COVID-19 terhadap potensi ekspor produk ini harus diminimalisasi. Oleh
karena itu, kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan
juga Atase Perindustrian Indonesia di berbagai negara. Para perwakilan
di luar negeri ini nantinya akan bernegosiasi agar ekspor produk IKM
dari Indonesia dapat dilanjutkan setelah penyebaran COVID-19 dapat
terkendali,” paparnya.
Salatiga_ Dinas Perindustra Tenaga Kerja Kota Salatiga pada tanggal 23 April 2020 mulai jam 09.00 WIB melakukan pemberian bantuan sembako kepada masyarakat yang terdiri dari karyawan yang terkena korban PHK dan yang dirumahkan srta dari kawan kawan ojek Online.
Adapun secara simbolis telah di berikan secara langsung bantuan sembako kepada masyarakat oleh Kepala Dinas Drd. Budi Prasetiyono, M.Si bekersama dengan Polsek Sidorejo.
Bantuan sembako ini diberikan sejumlah 104 paket, adapun data penerima sudah melalui verifikasi oleh tim Pemkot Salatiga. Proses penyaluran bantuan dilakukan dalam satu hari yang dibagi menjadi 4 gelombang.
Pada proses pembagian, panitia menganjurkan penerima bantuan harus memakai masker penutup mulut dan hidung, kemudian mereka diwajibkan untuk mencuci tangan terlebih dahulu, tempat duduk pun diatur jaraknya, serta disediakan hand sanitzer. Semoga dengan bantuan sembako ini bisa membantu masyarakat yang terkena dampak covid 19
Sekretaris
Jenderal Kementerian Perindustrian (Sekjen Kemenperin) Achmad Sigit
Dwiwahjono (kiri) menerima secara simbolis bantuan berupa 10 ribu masker
medis, 1.000 baju Alat Pelindung Diri (APD), 20 ribu pasang sarung
tangan medis, dan 30 kaca mata pelindung dari Tanoto Foundation yang
diserahkan oleh Penasihat Tanoto Foundation, Sihol P Aritonang (kanan)
di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Rabu (22/4).
Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Sekjen Kemenperin) Achmad
Sigit Dwiwahjono memberikan sambutan usai menerima secara simbolis
bantuan berupa 10 ribu masker medis, 1.000 baju Alat Pelindung Diri
(APD), 20 ribu pasang sarung tangan medis, dan 30 kaca mata pelindung
dari Tanoto Foundation, Rabu (24/4)
Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Sekjen Kemenperin) Achmad
Sigit Dwiwahjono (kiri depan) berfoto bersama dengan jajaran pejabat
Kemenperin, dan perwakila dari Tanoto Foundation usai menerima secara
simbolis bantuan berupa 10 ribu masker medis, 1.000 baju Alat Pelindung
Diri (APD), 20 ribu pasang sarung tangan medis, dan 30 kaca mata
pelindung dari Tanoto Foundation yang diserahkan oleh Penasihat Tanoto
Foundation, Sihol P Aritonang (tengah depan) di Kantor Kementerian
Perindustrian (Kemenperin) Rabu (22/4).
Pelayanan kartu prakerja sudah mulai dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Salatiga mulai tanggal 9 April 2020. Namun pelayanan kartu prakerja bisa dilakukan via ine melalui PRAKERJA .GO.ID
Dampak Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) sudah dirasakan banyak
profesi, termasuk mereka yang memiliki usaha menjahit. Terlebih,
mendekati Ramadhan yang biasanya pesanan masuk melonjak, sampai kini
belum pesanan untuk pakaian Lebaran.
IKM konveksi warga Tingkir Salatiga merasakan dampak Covid-19 ke bisnis menjahitnya. Usaha menjahit yang lancar dijalani dua tahun sebelumnya, tahun ini belum memberikan kabar baik.
Tiga bulan menjelang Idul Fitri yang
biasanya sudah banjir pesanan pelanggan sampai sekarang tidak terdengar.
Covid-19 membuat pemasukannya mengalami penurunan drastis, bahkan
hampir tidak ada pesanan untuk jahit baju.
Namun, di tengah-tengah
merebaknya Covid-19, masih ada jalan untuk bertahan dan melanjutkan
usahanya. Yaitu, dengan memanfaatkan peluang langka masker bagi
masyarakat dan adanya anjuran pemerintah untuk semua memakai masker.
IKM konveksi Tingkir Umi Hanik menangkap ini menjadi peluangnya dengan mencoba membuat masker dari kain sisa-sisa jahitan. Kemudian, didistribusi untuk kebutuhan donatur-donatur yang membagikan masker kepada masyarakat.
“Lama-lama, akhirnya ada juga pesanan dengan motif batik batu yang merupakan batik khas Salatiga, sehingga sekaligus dapat memasyarakatkan batik khas Salatiga kepada masyarakat luas”.
Dalam sehari, Umi Hanik mengaku dapat menjahit masker sebanyak 1000 buah. Lalu, bila ada pesanan yang cukup banyak, maka dia meminta bantuan kepada teman seprofesinya untuk menjahit, sehingga kebutuhan pesanannya dapat terpenuhi.
Umi Hanik menerangkan, masker yang dibuat dilapis dua kain, dan dikasih lubang di atasnya. Sehingga, bisa ditambah tisu di dalamnya, jadi diharapkan bisa benar-benar memproteksi pemakainya dari virus Corona.
“Saya tidak mengambil keuntungan yang banyak dari usaha menjahit masker kain ini karena juga diniatkan untuk membantu kesulitan yang tengah dihadapi masyarakat,” ujar Umi Hanik .
Industri kerajinan merupakan sektor yang memberikan kontribusi
signifikan bagi perekonomian nasional. Hal ini terlihat dari
sumbangsihnya terhadap devisa melalui capaian ekspor produknya, yang
pada tahun 2019 nilainya menembus hingga USD892 juta (sekitar Rp12,48
triliun) atau naik 2,5% dari perolehan tahun 2018 sebesar USD870 juta.
“Melihat potensi industri kerajinan nasional tersebut, kami optimistis nilai eskpor produknya akan semakin meningkat seiring adanya perbaikan mulai dari aspek kualitas produk sampai pada segi desain dan kemasan,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih di Jakarta.
Dirjen IKMA menegaskan, kekuatan Indonesia dalam upaya pengembangan
industri kerajinan yang bisa berdaya saing, juga didukung melalui
kekayaan sumber daya alam dan budaya serta ketersediaan perajin yang
terampil. Hal ini membuat produk kriya nasional mampu kompetitif di
kancah domestik hingga global.
“Apalagi, ditopang dengan pemanfaatan teknologi terkini, yang sejalan
dengan penerapan Making Indonesia 4.0 dalam kesiapan memasuki era
industri 4.0. Jadi, tidak hanya untuk industri skala besar saja, tetapi
juga industri kecil dan menengah (IKM),” tuturnya. Dalam hal ini,
Kemenperin memiliki kegiatan workshop e-Smart IKM serta program
restrukturisasi mesin dan peralatan produksi.
Gati bertekad, pihaknya ingin mewujudkan Indonesia menjadi salah satu
produsen kerajinan terbesar di dunia. “Tentunya, untuk mencapai target
tersebut, diperlukan kolaborasi dan sinergi dengan semua pihak, termasuk
Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas),” imbuhnya.
Guna memberikan ruang bagi perajin Indonesia untuk mempromosikan
produk kriya unggulannya, Dekranas kembali menggelar pameran dan bazaar
yang menampilkan produk-produk kerajinan khas Indonesia. Ajang yang juga
diapresiasi oleh Kemenperin ini diselenggarakan dalam rangka perayaan
Hari Ulang Tahun (HUT) ke-40 Dekranas.
Ketua Panitia Syukuran HUT ke-40 Dekranas, Yantie Airlangga
menyampaikan, gelaran pameran dan bazaar tahun ini memilih Pulau Madura
sebagai ikon. Hal ini mengingat Pulau Madura sebagai salah satu
penghasil batik potensial, yang merupakan warisan budaya bangsa dan
tinggi nilainya.
“Adapun tagline yang dipilih adalah Aku Cinta Kriya Indonesia. Dengan
mencintai Kriya Indonesia, kita mau membeli dan memakai kriya
Indonesia, ujarnya. Selain acara pameran dan bazaar, pada rangkaian
syukuran HUT Dekranas itu juga digelar tarian Madureh dari Madura,
fashion show batik Madura, serta pertunjukan seni tari yang dibawakan
oleh Pengurus Dekranas.
Ketua Umum Dekranas, Wury Ma’ruf Amin mengemukakan, Dekranas yang
sudah menginjak usia empat dasawarsa ini diharapkan semakin produktif
dan berperan besar pengabdiannya dalam pegembangan kriya Indonesia.
Selama 40 tahun ini sudah banyak program kegiatan yang dilakukan
Dekranas maupun Dekranasda, yang bekerja sama dengan instansi
pemerintah, BUMN maupun swasta, untuk membina perajin serta melestarikan
dan mengembangkan kriya Indonesia,” jelasnya.
Wury mengajak seluruh pengurus Dekranas maupun Dekranasda untuk lebih
giat dan bersemangat dalam menjalankan program kerja Dekranas, terutama
untuk mencapai visi dan misi Dekranas, dalam mendukung kemandirian
ekonomi Indonesia.
“Hal ini salah satunya dilakukan melalui pengembangan sektor kriya
yang berbasis kearifan lokal, bernilai tambah tinggi, dan berdaya saing,
sehingga mampu kompetitif di pasar dalam maupun luar negeri, yang pada
akhirnya dapat menjadi motor penggerak ekonomi nasional,” paparnya.
Kementerian Perindustrian terus mendorong peningkatan investasi di sektor industri pelumas guna memenuhi kebutuhan pasar domestik hingga ekspor. Selain memasok permintaan sektor otomotif, apabila nanti kapasitas produksi terdongkrak, industri pelumas juga diharapkan bisa mengisi peluang untuk mendukung sektor manufaktur.
“Baik itu investasi baru maupun yang ekspansi, kami akan dorong produsen pelumas di dalam negeri dapat memacu produksinya untuk industri,” kata Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam seusai Peletakan Batu Pertama Perluasan Pabrik Pelumas Shell di Bekasi, Jawa Barat.
Oleh karena itu, Kemenperin berupaya meningkatkan utilitas industri pelumas di dalam negeri, yang saat ini kapasitas terpasangnya mencapai mencapai 2,04 juta kilo liter (KL) per tahun. Sementara kebutuhan pelumas dalam negeri mencapai 1,14 juta KL per tahun.
“Pelumas yang diproduksi di dalam negeri sebesar 908.360 KL. Untuk kebutuhan otomotif, hampir 781 ribu KL lebih, sedangkan pelumas industri 127 ribu kilo liter per tahun” ungkap Khayam. Selanjutnya, Kemenperin juga bertekad menekan impor pelumas dengan memacu investasi di tanah air untuk menghasilkan produk substitusi impor.
“Maka
itu, kami mendorong industri di dalam negeri untuk memacu produksinya,
sehingga kebutuhan yang ada bisa dipenuhi oleh produk dalam negeri.
Kalau ada kapasitas tambah ini nanti kita jaga, impornya kita
kendalikan. Jadi, kalau kapasitas terpasang sudah naik akan semakin bisa
memenuhi,” paparnya.
Di samping itu, ke depannya, Kemenperin
mengarahkan untuk pengembangan produksi biopelumas. Namun demikian, hal
tersebut perlu ditopang melalui penerapan teknologi tinggi dan kegiatan
riset. “Ada beberapa perusahaan, seperti dari Korea, bahkan juga Shell
yang berminat masuk ke biopelumas,” imbuhnya.
Salah satu upaya
konkret yang dilakukan pemerintah untuk menggenjot daya saing industri
pelumas, antara lain dengan memberlakukan Standar Nasional Indonesia
(SNI) pelumas secara wajib. “Melalui penerapan SNI atau regulasi teknis
yang berbasiskan standardisasi ini diharapkan dapat dicegah beredarnya
produk pelumas berkualitas rendah di pasar domestik,” tegasnya.
Selain
untuk melindungi produsen dan konsumen di dalam negeri, SNI juga
ditargetkan untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif, mempromosikan
industri prioritas, mengembangkan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi
berbasis digital, serta menciptakan nilai tambah tinggi di dalam negeri
seiring dengan penerapan industri 4.0.
Saat ini, terdapat 44
perusahaan produsen pelumas di dalam negeri, dengan menyerap tenaga
kerja sebanyak 3.157 orang. Selain itu, ditambah tenaga kerja dari 140
perusahaan importir dan 580 perusahaan distributor pelumas, total tenaga
kerja di sektor tersebut mencapai 4.898 orang.
“Karena itu,
pemerintah juga mendorong melalui kebijakan insentif fiskal agar
tercipta keterlibatan dunia usaha dan dunia industri dalam penyiapan
sumber daya manusia berkualitas di industri pelumas,” sebutnya.
Kemenperin
memberikan apresiasi kepada PT Shell Indonesia yang telah
merealisasikan komitmennya dalam meningkatkan investasi dan kapasitas
industri pelumas, guna mendukung pertumbuhan perekonomian nasional.
“Tentunya
harapan kami, PT Shell Indonesia dapat terus menjadi mitra strategis
pemerintah, baik dalam peningkatan kapasitas industri sektor pelumas,
maupun dalam pengembangan litbang dan teknologi pelumas di tanah air
sehingga memberikan kontribusi yang nyata bagi sektor industri dan
perekonomian nasional,” tandasnya.
Lebih lanjut, Khayam juga
mengapresiasi PT Shell Indonesia yang telah berhasil memperoleh
Sertifikat Produk Penggunaan Tanda Standar Nasional Indonesia (SPPT SNI)
untuk seluruh varian produk pelumas otomotif dan berhak membubuhkan
tanda SNI pada label produk pelumas.
“Seiring dengan rencana
peningkatan kapasitas dan perluasan pabrik ini, diharapkan agar nilai
Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pelumas Shell dapat terus
ditingkatkan dengan mengembangkan bahan baku pelumas di Indonesia,”
ujarnya.
President Director and Country Chair Shell Indonesia,
Dian Andyasuri menyampaikan, Shell Indonesia menginvestasikan perluasan
pabrik pelumas (Lubricant Oil Blending Plant /LOBP) berkelas dunia yang
berlokasi di Marunda, Bekasi untuk menggandakan kapasitas produksinya.
Perluasan pabrik dari sebelumnya 7,5 hektar menjadi 9 hektar ini akan
mampu memproduksi 300 juta liter produk pelumas per tahun.
“Ekspansi
ini memungkinkan Shell untuk memenuhi permintaan pasar pelumas dalam
negeri yang terus meningkat dan berkontribusi dalam pengembangan
industri hilir di Indonesia,” tuturnya. Shell juga bertekad untuk terus
menjunjung teguh semangat ‘Shell untuk Indonesia’ dengan menjadi mitra
strategis bagi Pemerintah Indonesia.
Kementerian Perindustrian terus mendorong industri farmasi di dalam negeri agar semakin meningkatan kegiatan risetnya, sehingga dapat menghasilkan inovasi produk yang berdaya saing tinggi. Langkah ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik dan permintaan ekspor.
“Kami ingin memperkuat struktur industri farmasi di dalam negeri. Salah satunya melalui kegiatan riset, seperti untuk pengembangan obat herbal,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita ketika melakukan kunjungan kerja di PT Dexa Laboratories of Biomolecular Science, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.
Menperin
memberikan apresiasi kepada Dexa Group selaku perusahaan farmasi
terkemuka di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1969 ini mampu
menyediakan berbagai produk farmasi yang berkualitas. Produk-produk Dexa
Group tidak hanya untuk konsumen lokal, tetapi juga telah diekspor ke
berbagai negara di empat benua, yakni Afrika, Asia, Amerika, dan Eropa.
“Dexa
Group merupakan salah satu sektor pionir dalam pengembangan industri
farmasi di Indonesia,” ungkapnya. Bahkan, laboratorium yang dimiliki
oleh perusahaan tersebut, telah mendapatkan sertifikat internasional
dari Inggris.
Agus
menambahkan, pihaknya bertekad untuk terus menumbuhkan sektor industri
farmasi di tanah air dengan memperluas akses pasar dan meningkatkan
utilisasinya. “Kami berharap produk-produk industri farmasi kita bisa
terserap optimal di dalam negeri, seperti melalui program Jaminan
Kesehatan Nasional. Ini salah satu yang perlu diakselerasi,” imbuhnya.
Kemudian,
Kemenperin turut mendorong upaya industri farmasi agar dapat mengurangi
impor bahan baku dan menghasilkan substitusinya. Selanjutnya, Menteri
AGK mendukung untuk sosialisasi mengenai Obat Modern Asli Indonesia
(OMAI).
Mengenai
langkah substitusi bahan baku impor farmasi, Dexa Group sebagai
perusahaan nasional telah mengupayakan kemandirian bahan baku farmasi
melalui OMAI sejak tahun 2005. OMAI merupakan obat-obatan yang bahan
bakunya berasal dari alam Indonesia, sehingga mudah didapatkan dan tidak
tergantung dengan impor.
Ferry
Soetikno selaku Pimpinan Dexa Group mengatakan, dalam ranah industri,
ketergantungan industri farmasi nasional terhadap bahan baku impor,
salah satunya melalui pengoptimalan tingkat kandungan dalam negeri
(TKDN). “Regulasi TKDN ini sejalan dengan Inpres 6 Tahun 2016 tentang
Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan,” ujarnya.
Selain
itu, menurut Ferry, dorongan pemerintah terhadap penggunaan produk
hilirisasi hasil riset dalam negeri seperti OMAI ke dalam fasilitas
kesehatan nasional juga perlu dipercepat untuk memberikan kepastian
pasar bagi industri. “Industri perlu kepastian pasar untuk meningkatkan
produksi dan mengembangkan produk obat lainnya yang bermanfaat bagi
kesehatan masyarakat,” tandasnya.
Sementara
itu, Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences
(DLBS) Raymond Tjandrawinata mengemukakan, Dexa Group berkomitmen
melakukan kegiatan riset di tingkat hulu dengan mengembangkan sediaan
farmasi dan memproduksi Active Pharmaceutical Ingredients (API) yang
berasal dari makhluk hidup. Di tingkat hilir, inovasi pengembangan dari
DLBS ini menghasilkan empat produk Fitofarmaka di Indonesia dan sejumlah
produk obat herbal terstandar .
Lebih
lanjut, Raymond menjelaskan, industri memerlukan stimulus dari
pemerintah untuk mendorong pengembangan produksi bahan baku dalam negeri
baik di tingkat hulu maupun hilirnya. “Industri farmasi harus mendapat
dukungan untuk pengembangan bahan baku dalam negeri sebagai produk
substitusi impor,” terangnya.
Raymond
mencontohkan salah satu produk OMAI Dexa Group adalah Inlacin. Inlacin
merupakan obat diabetes Fitofarmaka berbahan baku bungur dan kayu manis
yang diperoleh dari petani di daerah
Gunung Kerinci di Jambi. “Produk ini telah teruji klinis dan memiliki
efikasi yang sama dengan obat diabetes berbahan baku kimia seperti
Metformin. Produk ini juga telah diekspor ke Kamboja dan Filipina,”
katanya.
Selain
Inlacin, produk Fitofarmaka lainnya adalah Redacid berbahan baku kayu
manis yang bermanfaat untuk mengatasi gangguan lambung, kemudian Disolf
berbahan baku cacing tanah yang bermanfaat untuk memperlancar peredaran
darah, dan Stimuno yang merupakan produk imunomodulator atau peningkat
imun berbahan baku meniran.
Sektor prioritas
Di
sisi lain, Kemenperin juga terus memacu pengembangan industri farmasi
di tanah air agar mampu berdaya saing hingga kancah global. Adapun
langkah strategis yang perlu dijalankan, antara lain adalah mendorong
masuknya investasi untuk memperkuat struktur manufaktur dalam negeri dan
menghasilkan produk substitusi impor.
“Industri
farmasi merupakan salah satu sektor yang diprioritaskan dalam
pengembangannya, karena diharapkan dapat berperan besar menjadi
penggerak utama perekonomian nasional di masa yang akan datang,” papar
Menperin.
Pada
kesempatan yang sama, Menperin memberikan apresiasi kepada PT. Kalbio
Global Medika (KGM), salah satu anak perusahaan PT. Kalbe Farma Tbk yang
fokus pada pembuatan produk-produk biologi, mulai dari pembuatan bahan
baku obat sampai produk jadi.
“Kami
apresiasi KGM mampu memenuhi standar kualitas yang berlaku baik lokal
maupun internasional sehingga menghasilkan produk berkualitas untuk
pasar lokal maupun diekspor ke berbagai negara,” tuturnya. Bahkan, KGM
adalah pabrik produk biologi yang mempunyai sertifikat CPOB (Cara
Pembuatan Obat yang Baik) dan saat ini fokus menggunakan sel mamalia sebagai sel benih (cell bank).
Pemerintah
telah mencanangkan program akselerasi pengembangan sektor strategis
tersebut melalui penerbitan Paket Ekonomi Kebijakan XI yang dituangkan
dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan
Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan (Alkes). “Tujuan Inpres
ini adalah menciptakan kemandirian industri farmasi dan alkes nasional,
sehingga masyarakat memperoleh obat dengan mudah, terjangkau, dan
berkesinambungan,” tutur Agus.
“Kami
mendorong industri farmasi nasional untuk terus berupaya membangun
struktur yang dalam dan terintegrasi agar mampu menghasilkan
produk-produk dengan inovasi baru dan bernilai tambah tinggi,” tegas
Agus. Oleh karena itu, guna menciptakan tujuan tersebut, diperlukan
iklim usaha yang kondusif, ketersediaan bahan baku dan penguasaan
teknologi.
Hingga
saat ini, kekuatan industri farmasi di dalam negeri, didukung sebanyak
206 perusahaan, yang didominasi 178 perusahaan swasta nasional, kemudian
24 perusahaan Multi National Company (MNC), dan empat perusahaan Badan
Usaha Milik Negara (BUMN). “Suplai produk farmasi di pasar domestik,
mampu dipenuhi oleh produksi lokal sebesar 76%,” ungkap Agus.
Kemenperin
mencatat, pada kuartal IV tahun 2019, industri kimia, farmasi, dan obat
tradisional mampu tumbuh 18,57% atau melonjak drastis dibanding
pertumbuhan kuartal III-2019 yang menyentuh angka 9,47%. Capaian
tersebut juga melampaui pertumbuhan ekonomi sebesar 4,97% pada kuartal
IV-2019.
Sementara
itu, nilai PDB industri kimia, farmasi, dan obat tradisional pada
kuartal IV tahun 2019 mencapai Rp22,26 triliun, melonjak dibanding
kuartal III-2019 sebesar Rp20,46 triliun. Berikutnya, sepanjang tahun
2019, nilai ekspor produk industri farmasi dan obat tradisional menembus
hingga USD597,7 juta, naik dibanding perolehan di tahun sebelumnya
sekitar USD580,1 juta.
“Artinya,
dari capaian-capaian tersebut, industri farmasi merupakan salah satu
sektor yang memiliki kinerja gemilang dan memberikan kontribusi
signifikan bagi perekonomian nasional,” ujar Agus. Guna menekan defisit
neraca dagang di sektor industri farmasi, Kemenperin memacu tumbuhnya
industri di sektor hulu atau produsen bahan baku, karena nilai tambah
produk farmasi akan meningkat jika sektor hulu dan hilir terintegrasi.
“Untuk
mengembangkan industri hulu dan penghasil produk substitusi impor,
memang perlu investasi. Dalam hal ini, pemerintah telah memfasilitasi
melalui pemberian insentif fiskal, di antaranya berupa tax allowance dan tax holiday. Selain itu, serta super tax deduction yang
diberikan bagi industri yang terlibat dalam program pendidikan vokasi
dan menciptakan inovasi melalui kegiatan R&D,” tandasnya.