Kementerian
Perindustrian terus berupaya mendampingi dan mendukung keberlangsungan
industri kecil dan menengah (IKM) dalam menghadapi dampak dari pandemi
Covid-19 di Indonesia. Untuk itu, Kemenperin mengidentifikasi segala
tantangan yang dihadapi IKM di segala sektor, salah satunya yakni IKM
otomotif yang kontribusinya cukup besar bagi pertumbuhan manufaktur dan
ekonomi nasional.
“Kami sudah membuat matriksnya, apa saja yang dibutuhkan oleh setiap pelaku IKM di Indonesia,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta.
Dari
data yang dihimpun Kemenperin, IKM komponen dan suku cadang otomotif
pendukung masih tetap berproduksi, meskipun sebagian besar mengalami
penurunan permintaan dari vendor, Agen Pemegang Merek (APM), hingga
pelanggan, di mana tingkat ketergantungannya sangat tinggi.
“Sebagai
contoh, apabila Honda dan Yamaha berhenti produksi, potensi kerugian
sekitar Rp2 miliar untuk IKM anggota Asosiasi Pengusaha Engineering
Karawang (APEK),” papar Dirjen IKMA.
Salah
satu IKM yang bersiap mengantisipasi dampak dari penyebaran Covid-19,
yakni PT Gading Toolsindo. Mereka memprediksi jika terjadi lockdown selama dua minggu, usahanya akan mengalami kerugian sekitar Rp570 juta. Sedangkan, jika lockdown terjadi selama satu bulan, kerugian yang dialami bisa mencapai Rp1,3 miliar dengan beban bunga kredit Rp480 juta.
Sementara
itu, data juga menunjukkan bahwa untuk akses distribusi dan pengiriman
masih bisa berjalan sepanjang jalur tol nasional (Jakarta-Cikampek dan
Pantura) masih tetap dapat dilalui. Adapun beberapa kendala yang
dihadapi IKM komponen dan suku cadang, di antaranya adalah harga bahan
baku yang lebih mahal, karena pengaruh kurs dolar.
Kemudian,
langkanya ketersediaan masker dan penyanitasi tangan, serta mahalnya
termometer infra merah dan peralatan semprot disinfektan, mengingat
peralatan tersebut dibutuhkan untuk menjalankan protokol kesehatan saat
melakukan kegiatan produksi untuk mencegah penyebaran COVID-19.
Terkait
imbauan pemerintah tentang bekerja dari rumah atau work form home
(WFH), pada karyawan nonproduksi sebagian belum dapat melaksanakannya,
karena keterbatasan fasilitas seperti tidak tersedianya komputer jinjing
atau laptop di rumah. “Namun, telah dilakukan beberapa upaya dalam
rangka mendukung Physical Distancing. Kemudian, untuk penundaan pembayaran kredit/pinjaman dan subsidi gaji karyawan akan kami usulkan,” tukas Gati.
Gati menambahkan, beberapa IKM Komponen otomotif yang tergabung dalam Perkumpulan Industri Kecil-Menengah Komponen Otomotif (PIKKO) Indonesia telah memiliki jaringan pemasok dari luar negeri, seperti PT Eran Tekniktama yang memiliki jaringan pemasok mesin pembuat masker dari China. IKM tersebut berharap dapat mengantongi izin impor mesin dari China untuk proses produksi membuat masker, untuk kemudian hasilnya didonasikan untuk masyarakat.
