Ekspor Tembus USD 12 Miliar, Kemenperin Fokus Substitusi Impor Sektor ILMATE

Kementerian Perindustrian terus memacu sektor industri logam, mesin, alat transportasi dan elektronika (ILMATE) agar dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan bagi perekonomian nasional. Berbagai program dan kebijakan telah dijalankan guna mendongkrak performa sektor strategis tersebut.

“Kinerja ekspor dari sektor ILMATE masih menjadi primadona di tengah situasi yang tidak menentu akibat pandemi Covid-19. Diharapkan, kontribusinya mampu mengakselerasi upaya pemulihan ekonomi nasional,” kata Direktur Jenderal ILMATE Kemenperin, Taufiek Bawazier di Jakarta, Kamis (10/6).

Pada triwulan I tahun 2021, nilai ekspor sektor ILMATE menembus angka USD12,4 miliar, naik sebesar 27% dibandingkan nilai pengapalan tahun sebelumnya yang mencapai USD9,7 miliar. Selain itu, nilai investasi sektor ILMATE juga terus menunjukkan tren positif, dengan nilai penanaman modal periode triwulan I-2021 sebesar Rp40,361 triliun.

“Industri logam masih menjadi kontributor terbesar, baik dalam nilai ekspor dan nilai investasi, dengan nilai ekspor USD5,6 miliar dan nilai investasi sebesar Rp27,68 triliun,” ungkap Taufiek.

Menurutnya, guna membangkitkan kembali gairah usaha para pelaku industri di tanah air, Kemenperin telah mengeluarkan jurus substitusi impor 35% pada tahun 2022. Langkah ini dijalankan secara simultan dengan peningkatan utilisasi produksi, mendorong pendalaman struktur industri, dan peningkatan investasi.

“Sektor ILMATE sendiri memiliki target untuk menurunkan impor sebesar Rp37,28 triliun hingga tahun 2022, dari total 106 nomor HS (komoditi), mulai dari logam, kendaraan bermotor, sepeda, peralatan elektronik maupun alat kesehatan,” sebut Taufiek. Pada tahun 2020, penurunan impor di sektor ILMATE mencapai Rp21,01 triliun.

Adapun beberapa langkah strategis yang sedang diupayakan oleh Kemenperin untuk memacu substitusi impor tersebut , antara lain terkait Minimum Import Price (MIP), kuota impor maupun perizinan impor. Kemudian, penerapan Pre-Shipment Inspection pada produk impor, serta pengaturan entry point pelabuhan untuk komoditi tertentu, dan diarahkan ke Pelabuhan di luar Jawa.

Berikutnya, melakukan pembenahan LSPro, mengembalikan kebijakan post border ke kebijakan border dan melakukan rasionalisasi Pusat Logistik Berikat, menaikkan tarif MFN bagi komoditi yang tinggi nilai impornya dan telah ada industrinya di dalam negeri, serta menaikkan implementasi Trade Remedies.

“Selain itu, perlu dilakukan juga penerapan kebijakan P3DN secara tegas; pemberlakuan SNI Wajib dan Technical Barrier to Trade (TBT), serta pengenaan bea keluar untuk beberapa komoditi primer dalam rangka menjamin ketersediaan bahan baku di dalam negeri,” tuturnya.

Taufiek optimistis, berbagai langkah strategis tersebut dapat menekan dan menurunkan nilai impor industri manufaktur, termasuk sektor ILMATE. Bahkan, mampu mendorong penguatan daya saing dan kemandirian sektor industri nasional. “Kami yakin, dengan terus melakukan berbagai upaya setrategis dan kerja sama yang dibangun dengan berbagai pihak, target penurunan impor 35% hingga tahun 2022 dapat tercapai,” tegasnya.

Beberapa waktu lalu, dilaksanakan forum sinergitas sebagai upaya untuk merumuskan langkah-langkah percepatan program substitusi impor 35% pada tahun 2022, yang melibatkan seluruh stakeholder terkait seperti dari pihak asosiasi, industri, pemerintah, dan BUMN. “Forum ini juga diharapkan dapat menjalin sinergi dalam upaya program penyerapan produk dalam negeri pada proyek pemerintah dan BUMN, yang merupakan salah satu strategi utama substitusi impor,” tandasnya.

Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.

Memperingati Hari Kelahiran Pancasila Tahun 2021

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) memimpin upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2021, Selasa (1/6/2021) pagi. Presiden bertindak selaku inspektur upacara dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, sedangkan pelaksanaan upacara dipusatkan di halaman Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri RI, DKI Jakarta, yang diikuti oleh peserta dengan jumlah terbatas.

Upacara juga diikuti secara virtual oleh para pimpinan lembaga negara, menteri Kabinet Indonesia Maju, pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian, hingga sejumlah kepala daerah. Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Salatiga turut serta dalam upacara secara virtual tersebut diikuti oleh segenap aparatur sipil negara di Dinas Perinnaker.

Walikota serahkan santunan BPJS Ketenagakerjaan

Usai melakukan kegiatan bersepeda bersama, Walikota Salatiga, Yuliyanto, SE, MM menyerahkan santunan kepada warga Salatiga yang menerima manfaat dari BPJS Ketenagakerjaan di halaman Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja di Jl. Ki Penjawi No. 12. Penyerahan dilakukan secara simbolis, santunan akan ditransfer langsung ke rekening penerima tersebut. Penerima santunan tersebut terdiri dari ahli waris THL di DIsperkim atas nama Suparmin,

Making Indonesia 4.0, Kemenperin Pacu Industri untuk Transformasi Digital

Transformasi sistem produksi konvensional menjadi digital tentu membutuhkan komponen dan peralatan otomatisasi yang sesuai dengan kebutuhan pabrik. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, PT Omron Manufacturing of Indonesia (OMI) selaku produsen komponen elektronik dan peralatan otomatisasi Industri dalam negeri kembali berekspansi dan melakukan pendalaman struktur industrinya.

“Kementerian Perindustrian terus mendorong dan memfasilitasi percepatan industri dalam negeri dalam melakukan transformasi digital sesuai dengan peta jalan Making Indonesia 4.0. Implementasi teknologi industri 4.0 menjadi kunci dalam meningkatkan daya saing, khususnya untuk industri elektronika yang merupakan user sekaligus provider teknologi tersebut.” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Senin (26/1).

Sebagai informasi, OMI adalah produsen peralatan industri yang umumnya dipasarkan untuk industri lainnya. Produk seperti relay, switch, sensor, dan timer, dapat diaplikasikan dalam produk jadi ataupun untuk mendukung sistem produksi dalam pabrik.

OMI yang merupakan pabrik Omron terbesar di Kawasan Asia Pasifik juga konsisten melakukan ekspor ke berbagai negara atau kawasan seperti ASEAN, China, Jepang, Eropa dan Amerika Serikat. Pada tahun 2020, nilai ekspor perusahaan mencapai USD90 juta, relatif signfikan di tengah masa pandemi.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier menyampaikan pentingnya peralatan otomatisasi dalam mempercepat implementasi Making Indonesia 4.0.

“Teknologi manufaktur seperti big data, artificial intelligence (AI), robotics, internet of things (IoT) dan lain sebagainya hanya bisa diimplementasikan jika lini produksi pabrik didukung dengan peralatan-peralatan otomatisasi. Ke depannya, peralatan ini akan menjadi sebuah kebutuhan bagi industri agar tetap dapat bersaing di pasar,” paparnya.

OMI secara konsisten menambah investasinya di Indonesia dan berupaya untuk memproduksi peralatan-peralatan yang lebih kompleks di dalam negeri seiring dengan bertumbuhnya permintaan di pasar lokal. Presiden Direktur OMI, Irawan Santoso menyatakan, pihaknya bertekad terus memperkuat bisnis OMI di Indonesia.

“Setiap tahun OMI selalu meningkatkan investasi di Indonesia untuk membeli mesin dan peralatan yang akan digunakan untuk menunjang produksi produk eksisting ataupun produk potensial ke depannya. Pada tahun 2020, kami mengeluarkan USD 2,9 juta dan pada tahun 2021 kami menargetkan budget sebesar USD7,6 juta,” ungkap Irawan.

Ke depannya, perusahaan berencana untuk mulai memproduksi PLC (Programmable Logic Controller) di dalam negeri untuk mendukung program Making Indonesia 4.0.

Menurut Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kemenperin, Ali Murtopo Simbolon, adanya PLC akan memungkinkan sistem produksi industri dalam negeri untuk meningkatkan kompleksitasnya.

“Kami mengapresiasi OMI yang terus berupaya menambah lini produksinya di dalam negeri, terutama produk PLC yang sangat berpengaruh dalam meningkatkan kompleksitas sistem produksi. Dengan adanya produk tersebut, standar sistem produksi dalam negeri dapat naik kelas untuk bersaing di level internasional” tutur Ali.

Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.

Industri Makanan dan Minuman Diakselerasi Menuju Transformasi Digital

Industri makanan dan minuman merupakan salah satu sektor yang mendapat prioritas pengembangan, antara lain dipacu untuk menerapkan teknologi industri 4.0. Transformasi digital ini dinilai membawa dampak positif terhadap peningkatan investasi dan produktivitas di sektor industri dan menciptakan tenaga kerja yang kompeten.

“Artinya, industri 4.0 memberikan multiplier effect bagi perekonomian nasional. Apalagi, dapat juga mendukung dan mempermudah aktivitas industri saat kondisi pandemi seperti saat ini,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Senin (19/4).

Menperin menegaskan, berdasarkan peta jalan Making Indonesia, industri makanan dan minuman adalah satu dari tujuh sektor yang diakselerasi untuk mengadopsi teknologi industri 4.0. “Langkah strategis ini diharapkan dapat mendongkrak kinerja sektor unggulan tersebut,” ujarnya.

Kementerian Perindustrian mencatat, kinerja industri makanan dan minuman selama periode 2015-2019 rata-rata tumbuh 8,16% atau di atas rata-rata pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sebesar 4,69%. Di tengah dampak pandemi, sepanjang triwulan IV tahun 2020, terjadi kontraksi pertumbuhan industri nonmigas sebesar 2,52%. Namun demikian, industri makanan dan minuman masih mampu tumbuh positif sebesar 1,58% pada tahun 2020.

Industri makanan dan minuman juga mempunyai peranan yang penting dalam kontribusi ekspor industri pengolahan nonmigas. Pada periode Januari-Desember 2020, total nilai ekspor industri makanan dan minuman mencapai USD31,17 miliar atau menyumbang 23,78% terhadap ekspor industri pengolahan nonmigas sebesar USD131,05 miliar.

Saat kunjungan kerja ke PT. Tirta Fresindo Jaya (Mayora grup), Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Abdul Rochim menyampaikan, pihaknya menyambut baik dan mengapresiasi PT. Tirta Fresindo Jaya atas inisiasi untuk melakukan transformasi industri 4.0. “Kami berharap Mayora grup dapat terus bertransformasi memimpin sektor industri makanan dan minuman,” tuturnya.

Terlebih saat ini belum banyak perusahaan penanaman modal dalam negeri yang sudah melesat jauh bertransformasi menjadi industri 4.0. “Kami ingin perusahaan ini dapat menjadi lighthouse nasional untuk  mendorong transformasi digital perusahaan industri nasional yang lebih baik,” imbuhnya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin, Doddy Rahadi menyampaikan, pihaknya terus aktif mendorong pelaku industri di Indonesia untuk bermitra bersama pemerintah dalam upaya transformasi menuju industri 4.0. Untuk itu, BSKJI bersama 24 satuan kerja layanan teknisnya yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia siap mendampingi perusahaan dalam menjalankan transformasi industri 4.0 mulai dari asesmen, konsultansi hingga sertifikasi.

“Dengan adanya perubahan dunia pasca-pandemi Covid-19 ini, kita dapat berperan dalam mendorong transformasi ekonomi melalui Making Indonesia 4.0, sejalan dengan program Indonesia tumbuh, di mana peran teknologi informasi menjadi sangat penting di samping upaya percepatan perizinan, penyederhanaan birokrasi serta reformasi regulasi,” papar Doddy.

Balai Riset dan Standardisasi (Baristand) Industri Surabaya, salah satu satker di bawahBSKJI Kemenperin, mempunyai fokus untuk peningkatan daya saing dan layanan jasa industri di wilayah Jawa Timur, juga turut menyampaikan kesiapan layanan jasanyadalam mendukung transformasi industri 4.0.

 “Sesuai amanat Kepala BSKJI, kami aktif mendukung transformasi industri 4.0 dari tahap asesmen, pendampingan, hingga sertifikasi industri dengan tools INDI 4.0 terkhusus bagi perusahaan industri di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya,” tutur Kepala Baristand Industri Surabaya, Aan Eddy Antana,.

Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.

Kemenperin-Pemkot Solo Ciptakan Tenaga Kerja Industri TPT Kompeten

Kementerian Perindustrian melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) meningkatkan kerja sama dengan Pemerintah Kota Solo dalam upaya pengembangan Solo Technopark. Langkah strategis ini juga menjawab tingginya permintaan tenaga kerja pada industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di seluruh wilayah Indonesia, khususnya Jawa Tengah.

“Perpanjangan kerja sama ini untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi SDM industri, khususnya di sektor industri TPT melalui pengembangan Akademi Komunitas (AK) Tekstil Solo yang berada di bawah binaan BPSDMI Kemenperin dan berlokasi di kompleks Solo Technopark,” kata Kepala BPSDMI Kemenperin Arus Gunawan di Jakarta, Senin (29/3).

Beberapa waktu lalu, Kepala BPSDMI Arus Gunawan beserta jajaran Eselon II melakukan pertemuan dengan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka. “Selama ini kita telah bekerja sama dengan Pemkot Solo, sehingga sekarang perlu meningkatkan kerja sama tersebut,” ujar Arus.

Kepala BPSDMI optimistis, dengan tenaga kerja yang kompeten, industri TPT di tanah air akan semakin berdaya saing. Sektor ini bakal berperan penting dalam memberikan kontribusi yang signfikan bagi perekonomian nasional.

“Selama ini, industri TPT merupakan salah satu sektor yang menyumbang devisa cukup besar dari ekspornya dan menjadi sektor padat karya dengan menyerap tenaga kerja yang banyak,” ungkap Arus.

Kemenperin mencatat, kinerja ekspor industri pakaian jadi sepanjang tahun 2020 mencapai USD7,04 miliar. Sektor industri tekstil mampu memberikan kontribusi sebesar 6,76 persen pada PDB industri pengolahan nonmigas di tahun lalu.

Arus menjelaskan, AK-Tekstil Solo merupakan salah satu unit pendidikan milik Kemenperin yang menyelenggarakan program pendidikan setara Diploma II dan terdiri dari tiga program studi, yakni Teknik Pembuatan Benang, Teknik Pembuatan Kain dan Teknik Pembuatan Garmen. “Peran ini yang perlu terus dipacu dan dioptimalkan,” ujarnya.

Hingga saat ini, AK-Tekstil Solo telah meluluskan lebih dari 1.000 mahasiswa, dengan total sebanyak 300 lulusan setiap tahunnya. Bahkan, 100% dari lulusan tersebut langsung terserap kerja di perusahaan-perusahaan tekstil besar yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, seperti PT. Pan Brothers, PT. Mataram Tunggal Garmen, dan PT. Sritex, Tbk.

“AK-Tekstil Solo telah menjadi pelopor pendidikan vokasi yang menjadi rujukan, karena membangun kolaborasi yang baik antara lembaga pendidikan dan industri,” jelas Arus. Artinya, AK-Tekstil Solo mampu memasok tenaga kerja terampil yang sesuai dengan kebutuhan industri TPT saat ini.

“Hal tersebut tidak luput karena adanya penyelenggaraan program unggulan BPSDMI, yakni link and match dengan pelaku industri yang mengintegrasikan kurikulum pendidikan di kampus dengan pendidikan industri sehingga proses pembelajaran dapat berjalan efektif dan menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri serta siap bekerja langsung di industri,” imbuhnya.

Pemilihan Kota Solo sebagai lokasi pendirian unit pendidikan Kemenperin ini juga tidak terlepas dari ikon kota Surakarta yang telah dikenal sebagai sentra tekstil di Indonesia, khususnya industri batik.“Ke depannya, kerja sama ini akan dibicarakan lagi demi tumbuhnya dunia industri di Solo. Saya berharap semoga AK-Tekstil dan Solo Technopark bisa tumbuh untuk supply chain dari industri,” terang Arus.

Dalam pertemuan, kedua belah pihak juga telah sepakat untuk membahas lebih lanjut secara lebih detail mengenai rencana kerja sama ini.“Setelah ini masih ada pertemuan lanjutan,” ungkap Gibran ketika memberi penjelasan kepada wartawan usai pertemuan berakhir.

Sebelumnya, Kemenperin telah menjalin kerja sama dengan Solo Technopark milik Pemkot Surakarta beserta Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah dalam rangka pendirian AK-Tekstil Solo pada akhir tahun 2015 yang diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada 26 Januari 2016.

Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.

Menperin Meriahkan Ajang Lari Virtual Kemenperin Runners

Menjaga kesehatan di masa pandemi merupakan kunci untuk mencegah penyebaran Covid-19. Selain dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, upaya ini juga ditempuh dengan rutin berolahraga, salah alternatifnya adalah berlari. Olahraga lari saat ini semakin populer dan digemari masyarakat karena relatif mudah, murah, dan lebih aman dilakukan dalam situasi pandemi.

Kemenperin Runners, komunitas pelari yang berafiliasi dengan Kementerian Perindustrian turut aktif dalam mendorong semangat berolahraga masyarakat. Untuk merayakan ulang tahun ke-3, Kemenperin Runners menggelar kegiatan SCHOTT Kemenperin Runners Virtual Run yang didukung sepenuhnya oleh Menteri Perindustrian. “Kami sangat mengapresiasi kegiatan lari virtual yang diselenggarakan oleh komunitas pelari Kemenperin ini. Mari kita sama-sama budayakan pola hidup sehat dengan berolahraga dan tetap menerapkan protokol kesehatan,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat membuka SCHOTT Kemenperin Runners Virtual Run di Jakarta, Minggu (28/3).

Ajang lari virtual merupakan terobosan digital di bidang olahraga. Bahkan, merupakan sebuah bentuk implementasi teknologi industri 4.0 dalam kehidupa sehari-hari. “Ini bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin melakukan olahraga secara aman di masa pandemi, namun tetap ingin merasakan euforia mengikuti event lari,” ujar Menperin.

Dalam kegiatan lari virtual, peserta bebas berlari atau berjalan di mana saja, sehingga dapat menjaga jarak aman atau menerapkan physical distancing, tentunya dengan tetap memperhatikan keselamatan diri.

Menperin juga menyampaikan, semangat masyarakat berolahraga menumbuhkan demand bagi industri terkait, antara lain industri alas kaki, sports apparel, alat olahraga, hingga elektronika dan telematika. “Salah satu misi Making Indonesia 4.0 di sektor tekstil dan pakaian adalah menjadi produsen functional clothing terkemuka. Meningkatnya permintaan dapat mendorong industri untuk membangun kemampuan produksi untuk kebutuhan ini sehingga dapat memenuhi permintaan functional clothing yang terus berkembang, termasuk di dalamnya pakaian olahraga,” jelasnya.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Dody Widodo yang melakukan flag-off virtual run tersebut menyampaikan, kegiatan tersebut didukung oleh perusahaan industri material gelas dan keramik SCHOTT Indonesia ini. Ajang tersebut terbagi menjadi tiga kategori jarak tempuh lari virtual dalam single run, yaitu 5K, 10K dan 21K. “Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 4.800 pelari dari seluruh penjuru nusantara. Saya mengapresiasi semangat dan antusiasme para peserta yang menunjukkan bahwa mereka giat menjaga pola hidup sehat,” kata Dody.

Kapten Kemenperin Runners sekaligus Wakil Ketua Panitia SCHOTT Kemenperin Runners Virtual Run, Kutut Aji menjelaskan, penyelenggara kegiatan mengimbau peserta untuk menerapkan protokol kesehatan saat berlari, yaitu mengenakan masker, mencuci tangan dan memakai hand sanitizer, menjaga jarak, memilih lokasi yang aman, serta memastikan kondisi fisik sehat.

Untuk teknis pelaksanaan lari, peserta dapat berlari pada Minggu, 28 Maret 2021 antara pukul 00.01 hingga 21.00 WIB dengan menyelesaikan tantangan sekali lari (single run) untuk kategori yang dipilih. Hal ini untuk menyesuaikan waktu bagi peserta yang berasal dari Indonesia Timur dan Indonesia Tengah.

Untuk mencatat waktu dan jarak tempuh, peserta wajib menggunakan aplikasi STRAVA. Kemudian, peserta melaporkan hasilnya melalui situs www.kemenperinrunners.org. “Panitia juga akan memverifikasi data dengan melihat akun STRAVA para peserta,” pungkas Kutut.

Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.

Kemenperin-IWAPI Dorong Wirausaha Perempuan Kembangkan Sektor IKM

Kementerian Perindustrian bersama Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) terus mendorong para wirausaha kaum perempuan di tanah air untuk bisa beradaptasi dengan situasi pandemi saat ini sehingga tetap dapat menjalankan usahanya. Langkah ini diharapkan berkontribusi dalam memacu upaya pemulihan ekonomi nasional.

“Perempuan mempunyai peranan penting dalam pengembangan industri kecil menengah (IKM) di Indonesia,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih di Jakarta, Jumat (26/3).

Sumbangsih perempuan di sektor IKM ditunjukkan lewat upaya mengembangkan industri di daerah dengan memanfaatkan sumber daya setempat serta potensi kelompok perempuan, membuka lapangan kerja maupun kesempatan berusaha bagi para perempuan, terbentuknya wirausaha baru perempuan, serta meningkatkan sumber daya pendapatan, taraf hidup dan kesejahteraan.

“Jadi, perempuan turut mendorong roda perekonomian Indonesia. Sebab, dari jutaan sektor IKM di Indonesia, hampir seluruhnya memiliki campur tangan atau dikelola langsung oleh perempuan,” ujar Gati. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan juga mempunyai peranan penting dalam membangun perekonomian nasional.

Beberapa waktu lalu, Ditjen IKMA Kemenperin mendukung kegiatan seminar online yang diikuti anggota IWAPI dari seluruh DPD se-Indonesia, dengan mengusung tema “Perempuan Pengusaha UMKM Aset Bangsa”. Tujuan digelarnya seminar online ini untuk membangkitkan semangat pengusaha perempuan untuk terus berwirausaha, membangun kreativitas dan inovasi melalui program peningkatan daya saing industri, serta sosialiasi berbagai kegiatan kompetisi yang diinisiasi oleh Ditjen IKMA Kemenperin.

Gati menyebutkan, Kemenperin selaku pembina industri, terus menciptakan para pelaku IKM kreatif dan inovatif melalui program peningkatan daya saing seperti akses pembiayaan melalui KUR, Fintech dan CSR. Selanjutnya, pembentukan material center guna mempermudah akses perolehan sumber bahan baku, fasilitasi teknologi dan sarana prasarana produksi melalui program restrukturisasi mesin dan peralatan, serta pembangunan sentra IKM.

“Kami juga menyediakan dua program peningkatan, yaitu peningkatan kualitas produk dan keahlian SDM, serta peningkatan akses pasar,” ujarnya. Pada program peningkatan kualitas produk dan keahlian SDM, dilakukan melalui fasilitasi standar produk, sertifikasi, manajemen dan teknis, serta perbaikan kemasan. Sedangkan program peningkatan akses pasar dilakukan melalui e-smart IKM, smart sentra, pameran dan promosi, dan link and match.

Selain itu Ditjen IKMA memiliki kegiatan kompetisi dengan memberikan penghargaan bagi pelaku industri di berbagai bidang atau  komoditas seperti Indonesia Food Innovation (IFI), Indonesia Good Design Selection (IGDS), Modest Fashion Project (MOFP), Startup4Industry, dan Upakarti.

Ditjen IKMA juga mendorong para pelaku IKM agar bertransformasi untuk ‘Goes Digital’. Salah satunya dilakukan melalui program e-smart IKM. Hal ini untuk mendorong literasi digital IKM, sehingga IKM dapat meningkat kualitas dan efisiensi produknya. Selain itu, dalam rangka penerapan Industri 4.0 dilakukan pilot project penerapan industri 4.0 pada industri gula palma dan IKM fesyen.

“Dengan diadakannya berbagai program pembinaan dan kegiatan kompetisi dari Ditjen IKMA, tentunya akan dapat menumbuh kembangkan wirausaha yang ingin sukses nantinya, khususnya bagi perempuan yang mempunyai jiwa pengusaha. Sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Gati.

Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.

Kerek Daya Saing Industri Fesyen, Kemenperin Ciptakan Desainer Kompeten

Industri fesyen muslim di Indonesia terus berkembang, baik dari segi variasi produk yang semakin beragam maupun kualitas produk yang kian bersaing. Di samping itu, potensi pasar di dalam negeri yang cukup besar, membuat bisnis industri fesyen masih prospektif ke depannya.

“Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian aktif mendorong tumbuhnya industri fesyen. Hal ini seiring dengan implementasi roadmap Making Indonesia 4.0, yang memasukkan industri tekstil dan pakaian sebagai salah satu sektor yang mendapat prioritas pengembangan,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Rabu (24/3).

Menperin menjelaskan, selama ini industri tekstil dan produk tekstil (TPT) berperan penting dalam memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional melalui penerimaan devisa dan penyerapan tenaga kerja. “Kinerja ekspor industri pakaian jadi sepanjang tahun 2020 mencapai USD7,04 miliar. Industri fesyen yang juga sangat erat hubungannya dengan sektor industri tekstil memberikan kontribusi sebesar 6,76 persen pada PDB industri pengolahan nonmigas di tahun 2020,” ujarnya.

Guna mengoptimalkan potensi industri TPT tersebut, Kemenperin sedang gencar mendorong industri fesyen muslim nasional. Langkah ini guna mewujudkan target Indonesia menjadi kiblat fesyen muslim dunia. “Untuk itu, tahun ini kami kembali menggelar kompetisi Modest Fashion Project (MOFP),” tutur Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih.

Gati menyampaikan, MOFP merupakan ajang kompetisi desain dan konsep bisnis fesyen muslim yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal IKMA Kemenperin sejak tahun 2018. Pada tahun 2021, MOFP kembali diselenggarakan dan merupakan penyelenggaraan yang keempat kalinya.

“MOFP menjadi sebuah kompetisi desain dan konsep bisnis fesyen muslim yang pesertanya  berpeluang untuk mendapatkan hadiah sebagai juara sekaligus berhak untuk mendapatkan program pembinaan dari Ditjen IKMA bagi peserta yang dinyatakan lolos sebagai finalis 20 besar,” paparnya.

Sebagai salah satu langkah dalam upaya mempromosikan kompetisi MOFP, Ditjen IKMA Kemenperin telah menyelenggarakan webinar sosialisasi MOFP beberapa waktu lalu, yang dihadiri para perwakilan Dinas Perindustrian Daerah selaku pembina pelaku industri fesyenyang masih berskala kecil dan menengah, serta para pelaku IKM fesyen dari berbagai daerah.

Tema yang diusung pada acara tersebut adalah Strategi Peningkatan Bisnis melalui Kompetisi Fashion, di mana Kemenperin selaku pemerintah ingin menyampaikan pentingnya aspek desain dari sebuah produk fesyenyang berimbas pada pengembangan bisnis fesyenpara pelaku IKM,” kata Direktur Industri Aneka dan IKM Kimia, Sandang dan Kerajinan, E. Ratna Utarianingrum.

Kemenperin melihat bahwa para desainer muda membutuhkan sebuah wadah dan panggung untuk dapat meningkatkan kapasitas serta kemampuan diri, khususnya sebagai wirausaha di bidang fesyen muslim serta mempromosikan dan memperkenalkan potensi produk fesyen muslim dalam negeri.

“Kami menyadari para desainer memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan industri fesyen,di mana para desainer dapatmemberikan inovasi dan menentukan arah tren desain khususnya dalam industri fesyen di Indonesia,” ujar Ratna.

Ratna berharap,para peserta webinar yang hadir dapat menjadi generasi desainer dan pengusaha fesyen yang mampu berkarya di kancah dunia untuk mempromosikan potensi industri fesyen nasional.Selain menyosialisasikan kompetisi MOFP, acara webinar juga diisi dengan Talkshow Fashion Business yang diisi oleh para dewan juri MOFP yang merupakan pakar berpengalaman di bidang bisnis dan industri fesyen.

Menurut Ratna, perkembangan jumlah umat muslim dunia menjadi salah satu pemicu utama yang mendorong pertumbuhan industri fesyen muslim. Berdasarkan The State Global Islamic Ecomony Report 2020/2021,konsumsi fesyen muslim dunia pada tahun 2019 diperkirakan mencapai USD277 miliar, sedangkan konsumsi fesyen muslim dunia pada tahun 2024 diproyeksi bakal menembus USD311 miliar.

“Sementara konsumsi fesyen muslim Indonesia sendiri pada tahun 2019 senilai USD16 miliar, terbesar kelima di dunia setelah Iran, Turki, Saudi Arabia dan Pakistan,”sebut Ratna. Kemenperin melihat hal ini sebagai peluang pasar bagi pelaku industri fesyen muslim nasional untuk mampu mengisi pasar domestik maupun global.

Ratna juga menyampaikan bahwa pengembangan fashion muslim di Indonesia juga mempunyai kinerja yang diakui di dunia internasional, berdasarkan The State of Global Islamic Economy Report 2020/2021, Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai negara yang mengembangkan fashion muslim terbaik di dunia setelah Uni Emirat Arab dan Turki.

“Semoga MOFPdapat dijadikan sebagai batu loncatan bagi teman-teman sekalian para desainer fesyen maupun pelaku industri fesyenuntuk dapatmenjadi seorang wirausaha baru di bidang fesyen muslim yang mampu memberikan dampak positif bagi perkembangan industri fesyennasional,” pungkasnya.

Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.

Pacu Industri Kerajinan dan Batik, Kemenperin Siap Gelar Innovating Jogja 2021

Industri kerajinan dan batik merupakan salah satu sektor yang mampu beradaptasi dan berinovasi di tengah dampak pandemi Covid-19 sehingga dapat bertahan, bahkan mendukung pemulihan ekonomi nasional (PEN). Di tengah masa sulit seperti saat ini, industri kerajinan dan batik di dalam negeri terus berupaya memunculkan kreativitas dan inovasi dalam rangka meningkatkan kinerja usahanya.

“Tumbuhnya kinerja sektor industri tersebut karena tetap menjaga kualitas produknya dan peningkatan volume produksi,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Rabu (24/3).

Menperin menegaskan, pihaknya mendorong para pelaku industri kecil menengah (IKM) di tanah air diharapkan dapat membuat produk sesuai preferensi pasar dan cepat melakukan diversifikasi produk. Tujuannya guna memacu keberlangsungan usaha mereka di tengah dampak pandemi.

“Industri kerajinan dan batik yang merupakan bagian dari industri kreatif dan didominasi oleh sektor IKM, mendapat prioritas pengembangan oleh Kementerian Perindustrian, karena dinilai mempunyai daya ungkit besar dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional,” papar Agus.

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian, Doddy Rahadi menyampaikan bahwa salah satu unit kerjanya, yakni Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta, akan kembali melaksanakan kegiatan Inkubasi Bisnis Teknologi Innovating Jogja Tahun 2021.

“Kegiatan Innovating Jogja ini bertujuan untuk pengembangan sektor industri kerajinan dan batik agar lebih berdaya saing, dengan memanfaatkan teknologi inovasi yang berasal dari masyarakat (calon tenant) atau memanfaatkan teknologi yang dimiliki oleh BBKB Yogyakarta,” tutur Doddy.

Selaras dengan perubahan fokus BSKJI, yang dahulu bernama Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), pelaksanaan kegiatan Innovating Jogja tahun 2021 menitik beratkan pada optimalisasi pemanfaatan teknologi pada proses bisnis para tenant.

Adapun pendaftaran Innovating Jogja 2021 telah dibuka bagi masyarakat umum yang berusia di bawah 45 tahun. Selain itu telah lulus SMA/SMK, berminat mengembangankan usaha, mampu mengunakan komputer dan memiliki ide yang inovatif di bidang kerajinan dan batik. Pendaftaran dilakukan dengan mengisi formulir online pada website innovatingjogja.id  sebelum tanggal 30 April 2021.

Kepala BBKB Yogyakarta Titik Purwati Widowati mengemukakan bahwa program Innovating Jogja yang sudah berjalan sejak tahun 2016 ini dinilai mampu menghasilkan industri baru yang kompetitif di bidang kerajinan dan batik di wilayah Yogyakarta dan beberapa daerah lainnya.

“Bahkan, beberapa tenant lulusan Innovating Jogja sudah berhasil melakukan ekspor,” ungkapnya. Secara total, sejak 2016 hingga 2020, Innovating Jogja telah membimbing sebanyak 113 calon dalam kegiatan bootcamp, dan 20 di antaranya berhasil lolos sebagai tenant inkubator teknologi bisnis.

“Kami merasa berbangga dalam pelaksanaan Innovating Jogja di tahun sebelumnya telah melahirkan industri-industri kerajinan yang masih bisa survive dan berkembang sampai dengan sekarang seperti Wastraloka, Janedan, Alra, Tizania Jumputan, Djadi Batik, Ramundi Diby Leather, Smart batik, dan Arane,” sebut Titik. Beberapa di antara mereka telah mencapai omzet lebih dari Rp500 juta per tahun.

Startup tersebut, yang lulus dari inkubasi Innovating Jogja, terus menunjukkan kinerja dan prestasinya. Wastraloka misalnya, yang berhasil meraih Femina Award 2017, kemudian Janedan menyabet Inacraft Award 2018, dan Tizania Jumputan memenangkan Juara I lomba Selendang Nusantara dalam Gelar Batik Nusantara 2019. Selain itu, Arane mendapatkan Anugerah Bangga Buatan Indonesia 2020 dan Top Two Blibli Big Start 2019, Deby Leather mendapatkan Kriya Nusa Award 2019 serta produk Smart Batik yang digunakan oleh Ditjen Pajak sebagai seragam.